fbpx

Selain Pengarang Dilarang Ngarang.

 Selain Pengarang Dilarang Ngarang.

wartasulteng.id, – “Kau harus lihai dalam melihat situasi”, sambil menyeruput secangkir kopi, Bapak melanjutkan. Dahulu, bapakmu berpesan agar kita ber-enam sebagai anaknya, selepas SMA tak perlu melanjutkan kuliah. Bukan bapak anti pengetahuan, tapi ia melihat, sarjana bagaimanapun tak menjajikan mudah menggapai cita-cita atau setidaknya pekerjaan layak. Tidak jelas bagaimana menerapkan ilmu-ilmu itu.

“Seiring waktu keadaan mulai berubah” cetus bapak. Akhir-akhir ini bapak mulai melihat jalan lain, seperti kata pepatah – ada banyak jalan menuju Roma. Ketimbang kuliah, saya berharap kalian semua pandai-pandai saja dalam bergaul. Masuklah sebagai pengurus organisasi massa, politik dan sebagainya. Soal pendidikan semampunya saja, toh..kuliah dan gelar bisa kau dapatkan di kemudian hari.

“Menjadi pegawai bukan jamannya lagi”. Tapi, kalau kalian mengidamkannya bapak berharap jadilah Hakim atau Polisi, atau setidaknya jadi Pegawai Birokrat. Selain itu harapan Bapak kamu semua berlatih mencintai pekerjaan Bapak, sebagai tenaga pengajar.

“Boleh saya menjadi yang lain, Pak!” Ucapku, berkesempatan.

“Wah..boleh sekali. Setiap jaman selalu butuh terobosan”. Bapak nampak antusias.

“Coba sebutkan, Bapak pengen dengar, is?!”

“Saya, atau siapapun tidak harus bersekolah formal, punya selembar ijazah atau sertifikat. Saya pikir semua orang punya kompetensinya sendiri, bisa menentukan arah dan tujuan hidup yang ideal menurutnya.”

“Memang ada kerjaan begitu?”

“Ada pak, ide seorang pengarang yang berbuah konsep selalu bernasib mujur untuk banyak orang. Atau paling buruk karyanya jadi sesuatu yang menghibur, Saya mau jadi Pengarang”.

Seketika Bapak melongo. Kutebak, dia kebingungan, dari bahasa tubuhnya Saya sudah hafal. Mendengarku, Bapak berpikir saya benar-benar sedang mengarang, dengan profesi itu mana mungkin kau tumbuh lebih baik ketimbang nasib Bapak.

“Bapak kecewa, nak”, bagi Bapak kalian kerja apa saja, selagi itu bukan kejahatan adalah sesuatu yang mulia. Jangan kau pikir mengarang tidak butuh kerja keras dan ketekunan? Agar karanganmu berbuah gagasan yang menjadi tunggangan nasib banyak orang, atau setidaknya bisa menghibur orang seperti sebuah dongeng cerita?.

“Yaa..Bapak senang kau memiliki keinginan sendiri. Tapi mengertikah kau, is? Bapak sangat marah ketika kau meremehkan cara menggapainya. Bapak tidak peduli kau mau menjadi apa, Bapak ingin anak-anaku berhati-hati dan tempuh cara strategi untuk sampai pada tujuan yang baik”

“Jadilah Pengarang, tapi jangan Ngarang, Nak”

“Iya Pak, Mohon Do’a dan Restunya!!” ***

Penulis: Ista Mujahid Akbar

Related post