fbpx

Lockdown, Mantra Pembunuh Kapitalisme

 Lockdown, Mantra Pembunuh Kapitalisme

Oleh : Ista Mujahid Akbar

wartasulteng.id, – Pandemi membuat manusia negeri sepenuhnya akan terdiskoneksi secara fisik dari lingkungan sekitar. Kabupaten sebelah akan menjadi negara lain, juga provinsi seberang akan menjadi luar negeri, negara-negara diberbagai belahan dunia tak jauhnya seperti dunia lain.

Pada peristiwa 9/11 yang terjadi di Kota New York, Amerika Serikat pada 2001 seorang ahli geografi David Harvey mengambil sebuah pelajaran penting tentang perekonomian kapitalis. “Ketika tak ada gerak, nilai lenyap dan keseluruhan sistem akan runtuh, modal bukanlah benda melainkan proses yang hanya ada dalam gerak,” tulisnya dalam buku A Companion to Marx’s Capital.

Pada momen pasca peritiwa 9/11 semua aktivitas di Kota New York lumpuh total selama tiga hari berturut-turut. Tak ada aktivitas warga, semua aktivitas transportasi darat,laut dan udara di hentikan, juga jalanan yang banyak di blokade. Sampai semua sadar kapitalisme akan runtuh jika situasi tanpa pergerakan terus berlanjut. Hingga Presiden Bush bersama Walikota Giuliani mengajak semua masyarakat beraktivitas; menonton, mendatangi restoran-restoran dan memohon publik mengeluarkan kartu kreditnya dan pergi berbelanja.

Tiga hari lockdown sudah cukup untuk membuat kapitalisme ketar-ketir, dan situasi pandemi corona ini hampir mensimulasikan hal yang sama dengan peristiwa 9/11 akan tetapi dengan lingkup yang lebih luas dan tanpa batas waktu yang jelas. Modal-modal yang mandeg berbulan-bulan bahkan menahun akan mulai berguguran. Ditengah pandemi corona, pemodal tak lebih dari pemilik loak kertas, seluruh aset fisiknya bisa jadi kembali ke potensi murni. Sertifikat tidak ada bedanya dengan kertas pembungkus gorengan.

Peristiwa serangan 9/11 di Kota New York pada 9 september 2001 ketika dua pesawat menabrakan diri ke menara kembar World Trade Center. (Foto: tribunnews.com)

Sampai sekarang saya masih percaya pendalaman makna revolusi Mr.President Jokowi, bahwa jalan revolusi masuk pada dua rangkaian tak terpisahkan; penghancuran tatanan lama dan pembangunan tatanan baru, inilah dasar imajinasi saya tentang keikutsertaaan bangsa ini pada revolusi tatanan baru kelas dunia, yang berhasil melawati tahap pengancuran tatanan lama adalah manusia-manusia terpilih.

Di masa pandemi rasa takut dan malas nyaris sejalan; takut kena virus dan malas sampai tidak ada kerjaan bisa jadi dua sisi mata uang yang sama. Semua manusia sedang di sortir, dari kebiasaan #kerjadirumah hingga akhirnya benar-benar #rebahandirumah. Karena rebahan secara massal tanpa aktivitas dalam kurun waktu yang lama akan membuat kapitalisme kejang-kejang.

Belakangan, banyak anak Kiri disibukan dengan mobilisasi massa dan pidato-pidato aksi menjaga situasi dari demoralisasi yang mengesalkan. Justru tanpa disadari, lockdown diam-diam mengantar sebuah paket revolusi idaman lebih cepat dengan dismobilisasi massa.

Disinilah bangsa-bangsa akan mulai menata lebih baik kehidupan mereka. Bagamana Indonesia? Setidaknya cita-cita pada pasal 33 UU 1945 jauh lebih rasional untuk di bayangkan di situasi semacam sekarang.(IM)

Related post