fbpx

Dari Kopra Hingga Arang Tempurung; Potensi Besar Perdagangan Komoditi Sulteng

 Dari Kopra Hingga Arang Tempurung; Potensi Besar Perdagangan Komoditi Sulteng

Rekan bisnis Yusuf ketika sedang menjemur kopra pada area gudang pengolahan di Kelurahan Pantoloan, Kota Palu. (Foto: wartasulteng.id/im).

wartasulteng.id, Palu – Lagu rayuan pulau kelapa ciptaan sang komponis Indonesia, Ismail Marzuki seolah menggambarkan betapa besarnya potensi alam yang dimiliki Indonesia.

Ditengah sulitnya ekonomi pada masa pandemi Covid-19, beberapa jenis usaha baik skala besar hingga kecil tengah mengalami masa fluktuatif. Meski begitu tak sedikit sumber potensi lain turut menjadi rayuan bagi masyarakat, dalam mengelola sumber pemasukan untuk kebutuhan hidup hingga sampai skala yang lebih menjajikan.

Salah satunya adalah Yusuf, seorang pengusaha kopra sekaligus arang tempurung yang berada di Kelurahan Pantoloan, Kota Palu. Belum lama ini dirinya memulai usaha pengolahan kopra sekaligus arang tempurung yang dijalankan bersama rekan di sebuah area lahan milik keluarganya di Pantoloan.

Sudah hampir 3 bulan di masa pendemi, Yusuf bersama rekannya merintis usaha tersebut, kepada wartasulteng.id dirinya mengaku tertarik untuk memulai usaha pengolahan kopra yang sekaligus mengolah limbah batok kelapa menjadi bara (red; arang tempurung) yang belakangan dinilai memiliki prospek yang menjanjikan.

Industri pengolahan bara (red; arang tempurung kelapa) kini menjadi salahsatu jenis usaha yang cukup menjajikan bagi masyarakat Sulawesi Tengah. Dimana bentang alam Sulawesi Tengah sejak dahulu dikenal sebagai pemasok hasil bumi unggulan, utamanya seperti buah kelapa yang banyak ditemui hampir di seluruh daerah di Provinsi Sulawesi Tengah.

Hal ini yang mendasari Yusuf dan rekannya membuka usaha pengolahan kopra dan arang tempurung, dimana pera petani di daerah dapat menyuplai hasil komoditi buah kelapanya ke pamasok yang membuka pasar perdagangan komoditi masyarakat untuk dikelola secara sirkuler ke sejumlah perusahaan eskportir yang kini banyak hadir di kawasan Kota Palu.

Yusuf, ketika dirinya memisahkan kopra dan tempurungnya setelah melalui proses tahap pengeringan. (Foto: wartasulteng.id/im)

Industri pengolahan arang tempurung kelapa merupakan jenis usaha baru dibandingan beberapa jenis hasil komoditi khas sulteng yang telah hadir lebih dahulu. Arang batok kelapa menjadi sub-industri, dimana bahan baku diambil dari limbah pengolahan komoditi lainnya (kopra).

“Belum lama saya memulai bisnis ini. Terbukanya akses pasar dan tingginya harga permintaan membuat sebagian orang termasuk saya berani untuk memulai usaha kopra dan arang tempurung ini,” kata Yusuf yang di temui disela-sela aktivitasnya saat mengolah kopra miliknya, Selasa (16/3/2021).

Sumber pasokan kopra maupun bahan baku tempurung kelapa biasanya hadir dari beberapa penyuplai di luar Kota Palu, seperti Kabupaten Donggala, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Sigi, Kabupaten Tojo Una-Una dan tidak sedikit juga hadir dari beberapa daerah di timur Sulawesi Tengah.

Dalam sebulan, usahanya dapat menampung lebih dari 10 ton kelapa dan lebih dari 8 ton penerimaan limbah tempurung yang diperoleh dari pengepul.

“Untuk sementara kita masih kecil-kecilan, masih 7 sampai 8 ton tempurung siap olah, dan sekitar 10 ton lebih untuk pasokan kelapa biji yang belum diolah menjadi kopra,” ungkapnya.

Dalam satu kali pengolahan, dengan standar kualitas dan jumlah bahan sekitar 8 ton per bulan untuk arang tempurung, dirinya dapat meraup keuntungan sebesar Rp.8 juta – Rp.15 juta, dan keuntungan untuk kopra sekitar Rp.5 juta – Rp.10 juta per bulan dalam rata-rata produksi usahanya.

Dirinya mengaku, awalnya hanya menjalankan usaha pengolahan limbah tempurung kelapa menjadi arang tempurung. Akan tetapi memasukan usaha pengolahan kopra ia siasati guna menjamin ketersediaan pasokan bahan baku arang tempurung.

Jenis usaha semacam ini menjadi lebih menjajikan karena sifatnya sirkuler, ketersediaan yang melimpah dari landskap sulteng yang banyak di penuhi perkebunan kelapa dan juga terbukanya pasar industri, membuat ruang usaha semacam ini bisa diakses oleh siapa saja.

Akan tetapi, masalah permainan harga di lapangan menjadi tantangan tersendiri bagi siapapum yang ingin memulai bisnis pengolahan hasil komoditi berupa kopra, kelapa biji maupun limbah tempurungnya.

Selain itu faktor kualitas kadar air turut mempengaruhi harga beli dan harga jual setelah pengolahan. Saat ini dirinya mengaku menerima harga beli limbah tempurung kelapa sebesar Rp.1800 per kilonya dari pengepul, dan Rp.2200 per kilonya pada pengambilan produk kelapa biji dari para pengepul.

“Selain kami menempati usaha di tingkat pengolahan berlanjut, usaha ini juga turut membuka peluang masyarakat sebagai pengepul limbah tempurung kelapa maupun penjualan dalam bentuk kelapa biji,” ungkapnya saat ditemui wartasulteng.id disela-sela aktivitasnya di gudang pengolahan kopra dan tempurung kelapa di wilayah Pantoloan, Kota Palu. Dirinya juga tidak sungkan membagi ilmu, jika ada warga masyarakat yang ingin belajar dalam bisnis pengolahan kopra maupun arang tempurung. (IM)

Tumpukan limbah tempurung kelapa dan sebuah tenda area penjemuran kopra milik Yusuf, di Kelurahan Pantoloan Kota Palu. (Foto: wartasulteng.id/im)

Related post