fbpx

Belajar dari pertikaian Pigai vs Arya Permadi, Ibra vs Lukaku juga Tragedi Hiroshima-Nagasaki.

 Belajar dari pertikaian Pigai vs Arya Permadi, Ibra vs Lukaku juga Tragedi Hiroshima-Nagasaki.

WartaSulteng.id – Dalam dunia ilmu komunikasi kita dapat memahami tentang dua kasus yang ‘miss komunikasi’ bisa kita duga menjadi sumber masalahnya.

Soal kalimat ‘voodoo’ yang dilontarkan Ibrahimovic kepada Lukaku saat pertandingan panas Derby Della Madonina Copa Italia, dan kata ‘evolusi’ yang disampaikan Arya Permadi alias Abu Janda kepada Natalius Pigai belum lama ini.

Dari dua masalah yang seucap kalimat telah menjadi sumber pertikaian itu, kita diajak untuk menengok kebelakang. Melihat sebuah peristiwa penting yang juga menjadi sebuah contoh dramatis kala kata ‘mokusatsu’ yang saat itu digunakan Jepang sebagai upaya merespons ultimatum dari sekutu AS pada akhir perang dunia II. Dan juga Jenderal McArthur yang dengan sigapnya segera memerintahkan staffnya agar mencari makna mokusatsu yang dikirim Pemerintah Jepang sebagai respon dari ultimatum.

Kala itu, semua kamus Jepang-Inggris dicari, dan dikumpulkannya mencari sebuah padanan kata. Sedang yang dicari memberi padanan arti dari mokusatsu adalah ‘No Comment’. Yang kemudian diteruskan kepada presiden Truman, sehingga akhirnya diambil keputusan untuk menjatuhkan bom atom.

Padahal, makna dari kata mokusatsu yang dikirim Pemerintah Jepang kepada sekutu saat itu adalah, kami akan menaati ultimatum Tuan ‘tanpa komentar’. Kekeliruan dalam menerjemahkan suatu pesan yg dikirim pada akhir perang dunia II boleh jadi penyebab pengeboman Hiroshima dan Nagasaki.

Sama halnya dengan kalimat ‘voodoo’ yang dilontarkan Ibrahimovic kepada Lukaku pada Derby Milano belum lama ini, dinilai sebagian orang sebagai kalimat rasis. Padahal makna voodoo sendiri merupakan istilah yang merujuk pada ritual keagamaan spirit animis leluhur di Afrika Barat.

Juga kalimat ‘Evolusi’ Arya Permadi yang ditujukan kepada Natalius Pigai menjadi berarti liar dan menjadi pergunjingan hangat baru-baru ini, ketika makna yang ditangkap sebagian merujuk pada evolusi manusia yang berasal dari kera dan bernuansa rasis.

Dalam dunia ilmu komunikasi, simbol dikenal memiliki dunia tersendiri, dimana makna telah menjadi pertautan dari tiga dunia: dunia pengirim simbol (world of author) dunia simbol (world of text) dan dunia penerima simbol (world of reader).

Boleh jadi setiap orang berusaha menafsirkan simbol yg kita pakai, tetapi justru bukan tafsiran itu yg kita harapkan. Sebab, apa yg kita harapkan dari orang lain nyatanya lebih dari sekedar menyibak makna dari simbol yg kita berikan (world of text) oleh sesorang, tapi juga agar dapat memahami kehendak kita (world of author).

Dari beberapa kejadian diatas, kita dituntut untuk terus belajar menyadari setiap orang punya potensi otak dan pengalaman yg berbeda-beda, karenanya kita juga membuka pengetahuan untuk tahu bahwa setiap kepala juga merupakan ‘kamus hidup’ yang berbeda. Jadi cukup dengan kita menduga, sekedar menduga isi kamus orang lain dari kata yang ia pilih (diksi) yang diucapkannya, tanpa mengabaikan penjelasan secara mendalam.

Dengan adanya rintangan interaksi, misalnya letak geografis dan kultural pada zaman dulu, menyebabkan corak bahasa menjadi kian kentara. Selain sudah menjadi identitas personal, tiap bahasa sendiri sudah dapat dikaitkan dengan kelompok asal penggunanya.

Sementara, perpindahan bahasa dari satu bahasa ke bahasa lain (translator) selalu menyertakan unsur perkiraan. Dalam sebuah bahasa, unsur paling asli adalah ucapan (speech), sebelum disepakati, ucapan tak lebih dari suara asing atau kicauan. Ucapan sangat beragam, karena setiap mulut punya kicauan yang khas. (IM)

Related post