fbpx

TUT WURI HANDAYANI; KETIKA GURU TAMPIL BERI DORONGAN DIBALIK LAYAR

 TUT WURI HANDAYANI; KETIKA GURU TAMPIL BERI DORONGAN DIBALIK LAYAR

” Guru adalah pemantik pengetahuan yang sudah tertanam sedari kecil dalam diri setiap murid, ilmu yang sama, yang dipelajari setiap manusia, tidak bisa dipelajari seekor kucing. Karena kasih sayangnya, Tuhan telah menciptakan kesempurnaan pada setiap manusia “. (Ista Mujahid Akbar)

WartaSulteng.id – Filosofi Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantara, tentang “ing ngarsa sung tulada” (di depan memberi teladan), “ing madya mangun karsa” (di tengah menjadi penyemangat), dan “tut wuri handayani” (dari belakang memberi dukungan), hendaknya menjadi spirit positif bagi setiap insan dunia pendidikan Indonesia di masa pandemiCovid-19 saat ini.

Seperti diketahui,  ‘Belajar dari Covid-19’ yang dicanangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI di Hari Pendidikan Nasional tahun ini, memberikan informasi dan mengingatkan kepada setiap anak bangsa tentang pentingnya sikap kepekaan, kepedulian, dan karya nyata untuk dunia pendidikan. Maka tema tersebut menyampaikan juga pesan bahwa segala yang terjadi haruslah berbuah hikmah yang bermanfaat. Tidak malah membuat kerja sia-sia dan membuang energi dengan berprasangka buruk atas segala kebijakan stakeholders, sehingga berujung melemahnya produktivitas kerja.

Dari filosofi di atas bila dikaitkan dengan kondisi saat ini harusnya bisa menghasilkan ekstra energi. Dikala Ide tentang ‘di depan memberi teladan’ diimplentasikan, maka hal tersebut  menyiratkan bahwasanya setiap individu adalah guru. Sehingga dengan predikat itu, , kita akan termotivasi untuk meningkatkan kualitas sikap personal yang harus selalu siap tampil di publik dan bersiap untuk diduplikasi oleh lingkungan sekitar.

Tut Wuri Handayani, Peranan Guru Berikan Dorongan Untuk Siswa

Situasi pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini, kendati menjadi penyebab berubahnya arah kebijakan pemerintah di semua sektor kehidupan termasuk pendidikan, tetap harus disikapi dengan bijak oleh semua guru juga semua stekholder yang ada.

Kondisi demikian menguji kemampuan setiap guru untuk memastikan produktifitas para siswa tetap terjaga. Dengan mengambil sisi positif dalam proses pembelajaran, interaksi dengan berbagai media dan teknologi mendorong kemampuan yang lebih merata dan juga lebih inovatif, hampir diseluruh Indonesia.

Penerapan modul belajar yang variatif oleh setiap guru ini, menjadi bentuk dorongan kepada siswa dengan model belajar yang dikemas menarik, interaktif dan imperatif. Disini, lebih mendorong para siswa untuk lebih dominan di ranah afektif dan psikomotor ketimbang ranah kognitifnya.

Bisa dibuktikan, hampir rata-rata pada pembelajaran offline, tidak semua siswa mampu untuk mengekspresikan diri dalam ruang kelas, hanya beberapa yang ‘berani’ berinteraksi dengan guru dalam kegiatan belajar tatap muka langsung.

Sekolah online bukan saja mendekatkan siswa pada penyesuan pendidikan berbasis teknologi, lebih dari itu, ruang kelas yang tekesan ‘arena kompetitif’ disulap oleh situasi pandemi Covid-19 menjadi ‘study from home‘ yang mendorong variatif pembelajaran yang lebih terbuka untuk semua siswa.

Disinilah letak peran para guru memberi sebuah dorongan dari belakang, dimana interaksi fisik murid dan guru tidak se-intens pada masa sebelum pandemi Covid-19. Dorongan nyata sebagai tantangan mengeksplorasi setiap kemampuan anak bangsa sesuai bidang dan kemampuan masing-masing.

Kehadiran fisik bukanlah segalanya, lebih penting bagi setiap guru adalah terus mengupayakan kehadiran jiwa pada setiap siswa untuk berani mengekplorasi diri dan mengekspresikannya hingga berbuah karya. (IM)

Related post