fbpx

Jalur Baru & Potensi Baru Gunung Terekstrem Di Sulteng

 Jalur Baru & Potensi Baru Gunung Terekstrem Di Sulteng

WartaSulteng.id – Dimana gunung dengan jalur pendakian terekstrem di Sulawesi Tengah?

Pertanyaan diatas cukup mudah untuk dijawab sebagian kelompok pendaki, pencinta alam maupun kalangan pegiat outdoor lainnya.

Jika bukan Sojol, sebuah gunung dengan ketinggian sekitar 3.000an meter diatas permukaan laut (mdpl) yang berada di perbatasan Kabupaten Donggala dan Kabupaten Tolitoli, yang waktu tempuhnya perlu memakan tujuh hingga sepuluh hari lamanya, pasti pendapat lain juga merujuk pada salah satu gunung yang letaknya tidak jauh dari pusat Kota Palu, yakni Gunung Gawalise.

Gawalise sudah terkenal dikalangan para pegiat outdoor sebagai salah satu gunung dengan rute pendakian yang cukup sulit. Meski hanya memiliki ‘top summit’ setinggi 2023 meter diatas permukaan laut, gunung ini punya karakteristik cukup berbeda, dimana para pendaki juga perlu mengatur siasat yang berbeda pula.

MEMULAI DARI TITIK NOL, HINGGA MINIMNYA SUMBER AIR

Pendakian Gawalise terbilang cukup terjal dan sulit, dimulai dari pedesaan disekitar kaki gunung yang berada di wilayah Kecamatan Ulujadi, para pendaki harus memulai pendakian dari titik nol hingga 10 meter diatas permukaan laut.

Berbeda halnya dengan gunung-gunung lain yang kebanyakan pos gerbang pendakian sudah memiliki ketinggian 800mdpl bahkan ada yang sampai 1.500-2000mdpl semisal Gunung Semeru yang menjadi gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Jalur yang memiliki sumber mata air pun cukup terbatas, sehingga para pendaki Gunung Gawalise disarankan untuk membawa perbekalan air menggunakan jergen air berkapasitas 5 liter dan botol mineral berukuran 1,5 liter tiap orangnya sejak berada di kaki gunung.

JALUR BARU JADI ALTERNATIF

Untuk mencapai puncak Gunung Gawalise terdapat banyak titik awal pendakian, terbaru, jalur melalui Desa Salena yang berada di Kecamatan Ulujadi menjadi salahsatu rute baru yang menawarkan sensasi berbeda ketimbang jalur pendakian Gawalise lainnya.

Para pendaki bisa menempuh perjalanan darat menggunakan mobil atau sepeda motor sampai di Desa Salena dan dapat memulai start pendakian dari titik tersebut melintasi punggungan utara gunung Gawalise.

Melihat banyaknya jalur pendakian yang ditutup atau tidak di beri izin oleh warga, jalur Salena benar-benar menjadi alternatif bagi para pendaki yang menghendaki pendakian salah satu gunung terekstrim di Sulteng itu.

POTENSI BESAR PENGELOLAAN GAWALISE

Sejak dahulu, rute pendakian gunung Gawalise kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat.

Berbeda halnya dengan di Jawa, gunung-gunung disana dapat dikelola dengan baik, dan berdampat baik pula untuk ekonomi masyarakat disekitarnya.

Sebagai gunung dengan jalur terekstrem di Sulteng dan memiliki akses yang cukup mudah, Gawalise sebenarnya memiliki potensi cukup besar, pendaki dan wisatawan lokal sudah tidak asing dengan daya tarik gunung ini. Bahkan, hampir rata-rata wisatawan luar atau pendaki yang berkunjung ke Sulawesi Tengah selalu memprioritaskan Gawalise dalam daftar rencana kunjungannya.

MANFAAT UNTUK WARGA

Jika akses jalan dari Desa Salena menuju Dusun Wana yang berada di ketinggian +-800mdpl terbangun baik ini menjadi jalur yang dapat dimanfaatkan oleh pendaki bahkan warga setempat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

Seperti diketahui, Dusun Wana adalah salah satu Dusun yang masuk dalam Kelurahan Tipo Kecamatan Ulujadi yang memiliki jumlah penduduk +-56 KK dan hampir semua penduduk Wana bermatapencaharian dengan cara berkebun.

Pendidikan disana hanya ada Sekolah Dasar (SD), jadi hampir rata-rata warga disana hanya menempuh pendidikan jenjang Sekolah Dasar saja, akibat akses dan keterbatasan yang ada untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

Kembali dalam topik, jika pengelolaan jalur pendakian Gawalise ini dapat di manfaatkan secara baik oleh pemerintah, ini akan mendorong potensi wisata pendakian Gunung pertama kali yang ada di Sulteng. Sebab, belum ada selama ini Gunung di Sulteng yang dikelola secara baik oleh Pemerintah.

Dengan terbukanya akses pengelolaan area jalur pendakian, pengelolaan retribusi pendakian, parkir kendaraan bisa jadi sumber pendapatan baru dan masyarakat juga dapat terbantu dengan akses jalan dan pembangunan lain yang lebih baik di kawasan kaki Gunung.

Selain itu, hasil komoditi masyarakat setempat dapat dijajakan kepada para pengunjung serta dapat menumbuhkan usaha baru sebagai penggerak ekonomi warga setempat seperti; perombakan kebun nanas menjadi wisata petik nanas, wisata petik apel atau stroberi.

Dengan pengelolaan potensi wisata pendakian Gawalise yang dikelola dengan baik, pengelolaan vegetasi jalur pendakian juga ikut terbantu. Dimana pemerintah melalui pengelola dapat mengatur jadwal dan waktu penutupan jalur, sebagai pemulihan vegetasi juga penyediaan atau pengadaan tim SAR dari warga. (IM)

Related post